Covid di Mata Para Pejuang Rupiah

            Sejak merebahnya covid di Indonesia, beberapa aktivitas sector dalam negeri harus dibatasi. Salah satunya, sector perekonomian. Dalam hal ini, sector perekonomian yang awalnya stabil menjadi menurun. Peraturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) baru tentang covid yang mengharuskan masyarakat di rumah saja, tentunya mengurangi konsumen utama dalam perdagangan. Hal itu kemudian memunculkan banyak sekali masyarakat yang harus kehilangan pekerjaan, omset menurun, bahkan bangkut sekalipun. Selain itu, PSBB juga mengurangi pendistribusian bahan pokok yang mengakibatkan kebutuhan rumah tangga beberapa kurang terpenuhi. Kesehatan dan pekerjaan adalah dua hal agar dapat bertahan hidup. Di sisi lain, masyarakat ingin kondisi tetap normal sehingga dapat bekerja dengan baik. Namun, kesehatan tak bisa dianggap sepele, karena korban covid mencapai ribuan bahkan ratusan.

            Fenoma covid  ini kemudian memunculkan kontroversi dari berbagai pihak. Menaggapi hal itu, pemerintah menetapkan prosedur new normal dalam menghadapi perekonomian Negara. Pada peraturan new normal, para pekerja dapat bekerja dengan normal. Namun, new normal tetap mengharuskan masyarakat yang bekerja untuk patuh kepada protocol kesehatan. Meski ,hal tersebut menuai banyak kontroversi, masyarakat menganggap hal itu adalah kabar baik mereka. Pasalnya, mereka dapat bekerja kembali setelah mengalami krisis ekonomi. Hari demi hari, banyak pedagang yang kemudian mulai membuka usahanya kembali. Memang, covid itu berbahaya. Namun, bagi mereka, rupiah harus dicari untuk menyambung kehidupan. Padahal, pendapatan sebelum covid saja sudah pas – pasan. Apalagi, covid yang harus mereka hadapi. Mereka juga ingin seperti orang – orang kaya yang mematuhi peraturan pemerintah untuk di rumah saja. Tapi, apa daya, tanpa cucuran air keringat, keluarga tidak akan makan. Orang kaya dengan mudahnya menggunakan uang untuk uang. Orang yang berada di bawah harus menggunakan keringat untuk uang. Padahal, harus turun ke jalanan untuk bekerja tidaklah mudah. Meski, patuh terhadap protocol kesehatan, resiko pedagang terkena covid sangatlah tinggi. Tak sedikit kasus muncul di pasar bahkan jalanan tempat pegagang kaki lima berjualan. Dalam hal ini, bisa dilihat Indonesia belum siap memerangi wabah covid tersebut. Ekonomi yang belum stabil, gerak lamban dari pemerintah, dan kebiasaan masyarakat yang tidak patuh peraturan membuat kondisi di masa covid semakin terpuruk. Kita bisa melihat bahwa ada banyak hal yang harus menjadi koreksi bersama. Kestabilan ekonomi sudah seharusnya didapatkan setiap warga. Oleh karena itu, peraturan tegas dari pemerintah serta kesadaran masyarakat akan covid ini harus terus diterapkan. Agar nantinya para pedagang mampu memiliki pendapatan cukup dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari, kemudian kemiskinan tidak lagi harus dihadapi masyarakat. Selain itu, keberhasilan sistem perdagangan dalam negeri juga startegi memperbanyak lapangan pekerjaan bagi pekerja baru agar angka pengangguran juga menurun. Memang, isu kemiskinan dan kesenjangan social ini tidak pernah habis menjadi topic hangat di Indonesia. Tapi, kalau kita mampu memerangi hal itu dengan beberapa solusi alternative, keaadaan sesulit apapun, bahkan semasa covid pun kita mampu atasi.

Komentar